Informasi dan misinformasi sedikit demi sedikit sampai kepada kita melalui rumor, kabar burung, iklan, artikel populer oleh wartawan, dokter yang tidak terdidik dalam nutrisi dan ahliahliâ industri (Dr Udo Erasmus, Fats that Fats that Kill). Kemudahan penyebaran informasi di zaman global ini sudah tidak diragukan lagi. Persoalannya adalah belum tentu semua informasi itu benar dan pemahaman penerima informasi terhadap sebuah informasi bisa juga terjadi kesalahan, termasuk informasi di bidang gizi. Banyaknya informasi gizi baik melalui media cetak, elektronik, selebaran dll bahkan layanan SMS khusus gizi dan kemudahan akses informasi melalui Internet, jika kita tidak waspada dan informasi yang diperoleh langsung ditelan mentah-mentah dapat menjadi sumber masalah gizi baru. Pernyataan Dr Udo Erasmus pada pembukaan tulisan ini, perlu dipahami sebagai suatu peringatan bahwa tidak setiap informasi khususnya bidang gizi selalu benar. Tetapi sayangnya fakta menunjukkan, misinformasi tidak disengaja dan disengaja saling menguatkan. Ini dapat mengakibatkan masyarakat terjerumus dalam 'kubangan' kesalahan praktik gizi, sehingga menjadi sulit memberantas masalah gizi dalam masyarakat. Berbekal pengetahuan yang memadai dalam dasar ilmu (basic science) gizi maupun terapannya (appllied science) misinformasi yang dapat berujung pada timbulnya masalah gizi dapat diminimalisasi. Bahkan dapat memecahkan berbagai problema gizi yang selama ini masih menyelimuti wilayah RI tercinta ini, karena telah banyak rakyat menderita masalah gizi karena misinformasi. Contohnya berapa banyak tenaga, biaya dan waktu yang dikeluarkan gara-gara mengikuti program diet atau mengonsumsi suatu produk untuk menurunkan berat badan. Yang terjadi bukan lemak tubuh yang berkurang, tapi justru otot yang digerogoti sehingga berakibat menjadi lemah dan mudah sakit. Berapa banyak uang yang dialirkan hanya menjadi 'kencing', karena mengonsumsi suplemen gizi yang sebenarnya belum tentu memerlukan bahkan dapat berakibat masalah gizi baru berkaitan dengan dampak interaksi antarzat gizi. Dalam komunikasi, ada tiga faktor penting bagaimana informasi itu sampai yaitu sumber informasi, cara, pembawa dan penerima informasi. Misinformasi dapat terjadi pada tataran sumber informasi yang memang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pembawa pesan yang salah menyampaikan karena kemampuan terbatas pada bidang gizi, dan penerima informasi yang kurang dapat memahami suatu informasi sehingga salah dalam menafsirkan informasi yang diterima. Sebagai ilustrasi, sebuah informasi gizi akan lebih bisa cepat diterima jika dikemas dalam kemasan menarik dan disampaikan oleh seorang publik figur, meski publik figur sendiri tidak pernah mendapat pendidikan gizi secara memadai. Contoh konkret adalah bagaimana resep diet seorang artis cantik, berkulit halus dan berbadan langsing serta padat berisi. Sang artis akan bercerita pengalamannya, misalnya karena makan atau mengonsumsi ini dan itu. Akhirnya gaya diet sang artis akan ditiru tanpa tahu atau bahkan 'tidak mau tahu', apakah informasi itu benar atau salah karena yakin melihat bukti penampilan artis tersebut yang sebenarnya dari 'sononya' sudah cantik dan langsing. Pada tataran masyarakat ilmiah yang mempunyai pendidikan cukup tinggi dan biasanya selalu berpikir berdasarkan kaidah ilmiah, misinformasi pun masih dapat terjadi. Saat ini, dalam dunia kedokteran muncul terminologi populer Evidence Based Medicine (EBM). Mengapa muncul EBM? Standar yang diterima di negara maju, keputusan klinis dokter harus didasarkan pada bukti ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal kedokteran dan kesehatan. Problemnya jumlah publikasi sekarang sangat banyak selain keterbatasan waktu dan kemapuan 'menelan' seluruh informasi, maupun memilah informasi yang valid dan tidak valid dari berbagai penelitian. Jadi meskipun dalam artikel ilmiah apalagi ilmiah populer yang biasa diterbitkan dalam media massa baik cetak maupun elektronik, masih perlu diteliti kebenarannya begitu juga hasil penelitian dalam bidang gizi. Perlu diketahui, EBM sendiri sebenarnya telah 'dipersenjatai' dengan seperangkat metode agar dapat digunakan memilah dan memilih informasi yang bernilai paling tinggi. Kemampuan memilah dan memilih itu yang harus dimiliki sumber/pembawa informasi dan juga penerima informasi. Bahkan secara tegas Allah SWT mengingatkan dalam QS Al-Israa: Dan Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Agar tidak terjerumus ke dalam misinformasi khususnya bidang gizi (diet) dan makanan, ada delapan pedoman sederhana yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengadopsi suatu informasi seperti yang diutarakan Prof dr Bambang Suprapto MMed Sci R Nutr SpGK, seorang dokter dpesialis gizi Klinik dan guru besar Ilmu Gizi Universitas Surakarta. Delapan pedoman itu adalah: 1. Makanan terdiri banyak substansi, tidak hanya zat gizi; 2. Makanan dan komponennya merupakan kesatuan dan memiliki berbagai fungsi dan efek fisiologis pada kadar yang berbeda; 3. Bila satu komponen diteliti sendirian, pengaruhnya dapat berbeda dengan bila ia diteliti bersama komponen lain di dalam makanan alamiah; 4. Satu zat gizi mungkin mempunyai lebih dari satu fungsi, dan fungsi ini mungkin mempunyai pengaruh berbeda terhadap outcome yang diteliti; 5. Kebutuhan zat gizi mungkin sangat berbeda untuk pertumbuhan, usia lanjut, kehamilan dan keadaan infeksi; 6. Zat gizi yang diteliti dapat mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap penyakit; 7. Pengaruh satu zat gizi dapat berbeda akibat kadar yang berbeda dari zat gizi lain; 8. Asupan makanan tidak sama dengan ketersediaan biologik. Bagi ilmuwan, harus ingat peringatan Karl Popper, seorang epidemiolog terkenal: A theory is scientific if it is falsifiable (suatu teori dapat dikatakan ilmiah jika siap disalahkan). Jadi bagi praktisi gizi, harus selalu mengikuti perkembangan terbaru ilmu gizi. Karena, perubahan di era informasi dan komunikasi dengan postulat ilmu dari bio selular menjadi bio molekuler, menuntut untuk selalu belajar dan belajar. Dengan demikian, apa yang disampaikan selalu relevan dengan temuan ilmiah terbaru (up to date) dan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai, apa yang disampaikan sudah kedaluwarsa (expired). Untuk perusahaan produsen makanan atau produk diet, harus memberikan informasi yang sejelasnya (detail) kepada calon konsumen. Jangan sampai hanya diberikan informasi yang positif (bias publikasi), sedang yang negatif ditutupi sehingga ketika calon konsumen memilih produk tersebut benar-benar mengetahui untung rugi akibat pilihannya tersebut. Bagi masyarakat awam yang ingin tahu kebenaran, harus bertanya kepada ahlinya yang benar-benar mempunyai kapabilitas dan kredibilitas serta jujur terhadap ilmu. Yakni, menyampaikan ilmu apa adanya tanpa harus mempertimbangkan kepentingan pribadi atau kepentingan sesaat lainnya. Nutrisionis RSUD Ulin, mahasiswa Magister Ilmu Gizi UNS Surakarta e-mail: instalasigizi_rsudulin@xxxxxxxxxxx
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



Post a Comment